Home » Binatang Buas » 10 Jenis Ular Phyton yang Ada di Indonesia

10 Jenis Ular Phyton yang Ada di Indonesia

Ular phyton atau ular sanca merupakan ular pembelit yang termasuk ke dalam suku Phytonidae. Ular ini dikenal tidak memiliki bisa yang mematikan, akan tetapi phyton memiliki kemampuan yang luar biasa dalam hal melilit mangsa. Selain itu, ular ini merupakan jenis ular terpanjang di dunia. Meskipun bukan ular berbisa, tetapi dalam beberapa kasus ditemukan kadar bisa dalam jumlah tertentu yang masih terdapat dalam liurnya, tentunya dengan kadar rendah dan tidak mematikan.

Ular phyton

Ular yang memiliki panjang hingga 7 meter dan bobot mencapai 100 kg ini banyak ditemukan di berbagai daerah seperti hutan tropis, perairan air tawar, dan padang rumput. Mangsa utama dari ular ini berupa burung, tikus, rusa, babi hutan, dan lain-lain. Selain itu, phyton juga kerap kali memangsa ternak seperti ayam, itik, dan hewan lain.

Kebiasaan ular phyton dalam berburu adalah dengan cara melilit kuat tubuh dari mangsa hingga kehabisan nafas dan tulang-tulangnya remuk, kemudian baru memakannya. Ular phyton dapat dengan mudah menelan mangsanya karena memiliki mulut yang sanga fleksibel serta ukura perutnya yang memungkinkan untuk dilalui oleh hewan besar termasuk tubuh manusia. Setelah memangsa, biasanya phyton akan lebih sulit bergerak sehingga mudah untuk ditangkap. Sayangnya populasi ular jenis ini semakin sedikit karena maraknya perburuan oleh manusia yang merasa terancam akan keberadaan ular ini. Berbicara mengenai ular phyton, berikut ini akan dijabarkan beberapa jenis ular phyton yang ada di Indonesia.

  1. Sanca Batik (Phyton reticulatus)

Sesuai dengan namanya, ular phyton/sanca batik memiliki ciri khas dengan corak tubuh yang menyerupai pola batik. Ular ini bisa tumbuh hingga mencapai panjang 8 meter dan tercatat sebagai reptil terpanjang di dunia saat ini. Persebarannya meluas di kawasan Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri, ular ini biasa ditemukan di berbagai wilayah di pulau Sumatera, Sulawesi, Maluku, hingga Nusa Tenggara.

  1. Sanca Darah

Ular phyton ini termasuk phyton yang berukuran pendek, yaitu panjang maksimal hanya sekitar 3 meter saja dengan tubuh yang cenderung lebih gemuk. Ciri lain adalah warna tubuhnya yang kemerahan sehingga tak heran jika dinamai dengan nama sanca darah. Ular ini banyak tersebar di rawa-rawa serta tepian sungai di pulau Sumatera. Cara perkembangbiakannya adalah secara ovipar atau bertelur. Adapun pada ular betina, sangat jarang ditemukan kasus di mana mengeluarkan telur lebih dari satu lusin. Terdapat dua jenis sanca darah yaitu sanca darah merah (Phyton brongersmai) dan sanca darah hitam (Phyton curtus). Ular jenis ini banyak diincar oleh masyarakat untuk diambil kulitnya. Hal ini dikarenakan corak dari ular sanca darah sangat menarik dan cocok untuk bahan pembuat sepatu, tas, dan aksesori unik lainnya.

  1. Sanca Bodo (Phyton bvitattus)

Ular ini merupakan jenis ular phyton yang paling populer dan banyak diperdagangkan. Ular ini banyak ditemukan di hutan tropis atau hutan musim yang lembab di daerah pulau Sumatera, pulau Jawa, dan pulau Bali dan merupakan spesies invasif di Amerika Serikat. Ukuran tubuhnya berkisar antara 3 – 6 meter dengan bobot tubuh mencapai 160 kg dan didominasi oleh warna coklat muda dengan bercak coklat tua. Karena banyak dilakukan perdagangan dan penangkapan ular ini secara liar, saat ini IUCN menetapkan status dari populasinya yang menjadi rentan.

  1. Phyton Halmahera (Morelia tracyae)

Ular ini merupakan spesies yang hanya ditemukan di pulau Halmahera seperti Ternate, Tidore, dan Tanimbar dan masih berkerabat dengan spesies Simalia amesthistina. Panjangnya sendiri berkisar antara 2,5 hingga 4 meter dengan warna dasar yang kerap kali berubah dengan dihiasi garis punggung yang tebal. Garis-garis tersebut umunya berwarna coklat tua, hitam, dan hitam kehijauan. Umumnya phyton halmahera bergerak dengan nyaman di tanah atau di atas pepohonan.

  1. Sanca Hijau (Morelia viridis)

Sanca hijau merupakan jenis ular pohon yang banyak ditemukan di Papua dan daerah kepulauan di sekitarnya. Sesuai dengan namanya, ular ini memiliki ciri khas warna hijau daun pada tubuhnya. Panjang tubuhnya sendiri berkisar antara 1,5 – 1,8 meter saja, akan tetapi untuk yang berjenis kelamin betina, maka ukurannya dapat mencapai 2 meter tergantung pada daerah di mana mereka tinggal. Umumnya mereka hidup di hutan hujan, pepohonan, dan semak belukar. Selain itu, mereka juga kerap menyamarkan diri jika merasa terancam dengan cara bersembunyi di balik dedaunan. Sehingga keberadaannya sulit untuk dikenali karena warna tubuhnya yang menyerupai warna pada daun.

  1. Sanca Permata (Morelia amethistna)

Sama seperti phyton hijau, phyton permata juga banyak ditemukan di Papua. Karakteristik utama dari ular ini adalah warna sisiknya yang terang dan menyerupai permata. Panjang tubuh dari ular ini adalah sekitar 5 meter, akan tetapi pernah juga ditemukan sanca permata yang memiliki panjang mencapai 8,5 meter.

  1. Sanca Bulan (Simalia boeleni)

Masih di daerah Papua, ular ini juga berasal dari pegunungan Papua pada ketinggian diatas 1.500 meter di atas permukaan laut. Warna tubuhnya cenderung kehitaman dengn garis kuning dan panjang maksimal pada ular dewasa sekitar 3 meter. Dengan ukuran tubuh tersebut, maka mangsa dari ular ini berupa hewan-hewan kecil.

  1. Sanca Mata Putih (Liasis savuensis)

Ular ini memiliki panjang yang hanya sekitar 1,5 meter saja, sehingga dinobatkan sebagai ular phyton terkecil di dunia. Karakteristik dari ular ini adalah matanya yang berwarna putih. Biasanya ular ini suka memangsa tikus dan hewan kecil lainnya. Sanca mata putih banyak ditemukan di hutan Papua.

  1. Phyton Maluku (Morelia clastolepis)

Sesuai dengan namanya, ular ini hanya tersebar di wilayah Maluku saja, sehingga tak heran jika dinamai dengan phyton maluku. Warna tubuh dari ular ini cenderng berwarna coklat terang.

  1. Puraca (Phyton breitensteini)

Phyton jenis ini awalnya merupakan spesies yang sama dengan jenis Phyton curtus. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya spesies ini dipisahkan dari spesies Phyton curtus. Ular ini merupakan hewan endemik daerah Borneo dan mampu tumbuh hingga mencapai panjang 3 meter. Warna yang dimiliki oleh puraca cenderung memiliki corak berwarna coklat. Oleh masyarakat sekitar, ular ini juga dikenal dengan nama lipung atau ripung.

 

Komentar