Home » Dunia Binatang » Dikenal Sebagai “Inang”, Bagaimana Kelelawar Mampu Bertahan dari Virus

Dikenal Sebagai “Inang”, Bagaimana Kelelawar Mampu Bertahan dari Virus

Kelelawar merupakan salah satu hewan yang istimewa karena merupakan satu-satunya mamalia yang dapat terbang. Hewan ini termasuk dalam ordo Chiroptera yang memiliki kaki depan yang juga berfungsi sebagai sayap. Baru-baru ini, Pemerintah Kota Solo melakukan pemusnahan terhadap ratusan kelelawar di salah satu pasar yang khusus menjual hewan peliharaan. Pemusnahan ini adalah dalam rangka menghentikan penyebaran virus corona di kota tersebut. Setidaknya, ada sekitar 200 kelelawar dengan jenis codot dan kalong yang dimusnahkan dengan cara dibakar. Sebelum dibakar, kelelawar-kelelawar tersebut dibius terlebih dahulu sehingga tidak sadarkan diri.Diketahui, kelelawar merupakan “inang” bagi berbagai jenis virus, salah satunya adalah virus yang sedang menyebar di seluruh dunia saat ini yaitu SARS-CoV-2.

Bukan itu saja, kelelawar juga menjadi perantara penyebaran virus lain yang mematikan. Lantas, dengan adanya status tersebut, bagaimanakah mereka dapat bertahan hidup dengan banyaknya virus yang tersimpan di dalam tubuhnya?

Kelelawar Sebagai “Inang” Virus

Sebagai hewan yang istimewa karena merupakan satu-satunya mamalia yang dapat terbang, kelelawar kemungkinan memiliki faktor imunologis, fisiologis, serta riwayat lainnya. Setidaknya terdapat 24 jenis virus yang bersemayam dalam tubuh kelelawar. Salah satunya adalah virus corona (CoVs atau Covid-19) yang saat ini sedang menggemparkan dunia. Tidak sampai di sini saja, kelelawar juga pernah membawa beberapa wabah virus berbahaya lainnya seperti MERS yang menyerang pada tahun 2012. Virus tersebut menyerang dan menginfeksi hampir 2.500 serta menewaskan setidaknya 858 jiwa. Virus lainnya berupa SARS atau virus yang menyerang sistem pernapasan pada 17 tahun silam yang menginfeksi sekitar 8.000 orang serta menewaskan 774 jiwa.

Terdapat persamaan antara virus SARS dan Covid-19 ini, yaitu sama-sama menyerang sistem pernafasan dan merupakan virus dengan jenis yang berbeda. SARS merupakan virus yang diserbarkan oleh perantara kelelawar musang bulan (Paguma larvata), sedangkan Covid-19 masih belum diketahui. Bahkan, kemiripan antara kedua virus ini menyentuh presentase 94,4%. Hingga saat ini, virus corona telah menginfeksi lebih dari 3,5 juta orang di seluruh dunia dengan presentase kematian hingga 7& ditambah lagi belum ada vaksin untuk menyembuhkan seseorang dari virus corona maupun MERS.

Virus corona muncul pertama kali di sebuah pasar yang menjual daging hewan liar di Provinsi Hubei, Cina. Adapun dugaan sementara timbulnya virus ini adalah berasal dari kelelawar. Alasannya tentu saja karena status “inangnya” virus yang mengarah pada mereka tersebut. Selain itu, mereka juga memiliki posisi tidur yang cukup unik, sehingga kehidupan hewan ini selalu menjadi misteri. Itulah sebabnya mengapa para ilmuan menaruh perhatian penting pada hewan ini untuk diteliti lebih lanjut mengenai virus yang terdapat pada kelelelawar.

Bagaimana Cara Menularkan Virus-virus Tersebut?

Bukti Baru: Ditemukan Virus Corona Kerabat Dekat SARS-CoV-2 pada ...

Menurut penelitian, virus-virus termasuk corona dapat bertahan hidup dalam tubuh mereka secara alami selama empat hingga enam bulan. Sel-sel tubuh kelelawar akan beradaptasi dengan cepat jika terpapar virus dengan mempertahankan antivirus alami yang kemudian nantinya akan dimatikan pada spesies lain, dalam hal ini termasuk juga dengan manusia. Virus yang telah beradaptasi dengan sel-sel kelelawar tadi kemudian akan dengan cepat bermutasi pada gen tertentu. Kemudian hasil dari adaptasi tersebut, muncullah virus yang tersisa dalam jangka panjang di tubuh mereka. Tentu saja tidak berbahaya menularkan penyakit.

Penyebaran virus corona pertama kali terindentifikasi di Kota Wuhan Provinsi Hubei, Cina. Virus ini memiliki kemiripan dengan SARS. Kemungkinan besar, virus ini berasal dari hewan ini yang pernah menyebabkan epidemi pada tahun 2002-2003 lalu. Inang perantara lain dari penyebaran virus ini berupa hewan yang terinfeksi melalui darah, air liur, dan urin atau feses mereka. Kemudian virus akan menyebar lagi lewat transmisi pada manusia. Virus akan bermutasi melalui kontak dengan hewan yang telah terinfeksi tadi.

Akan tetapi, kelelawar tidak sepenuhnya bersalah dalam kasus ini. Berbagai faktor lain dapat menjadi alasan mengapa penyebaran virus ini begitu cepat. Salah satunya adalah gaya hidup serta makanan apa yang kita konsumsi. Oleh sebab  itu, berhentilah untuk menjual bahkan mengonsumsi hewan liar ini agar penyebaran virus-virus baru dapat dicegah di kemudian hari.

Bagaimana Kelelawar dapat Bertahan Hidup dengan Virus?

Kelelawar memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik sehingga siap memerangi infreksi yang ditimbulkan dari virus. Selain itu, respon dari imun kelelawar sangat tinggi dalam membantu virus bermutasi dengan cepat. Hal ini mengakibatkan virus memiliki sifat penularan, akan tetapi, hal itu tidak berlaku bagi mereka. Respons antivirus dan anti inflamasi dari spesies kelelawar tertentu dapat meningkat secara kuat dalam waktu yang bersamaan. Sedangkan, pada hewan yang cenderung memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah akan kewalahan dalam menghadapi virus yang menyerang.

Selain itu, kelelawar juga dilengkapi dengan kemampuan sayapnya yang terdapat molekul sinyal interferon-alfa yang dapat membantu mereka untuk memperingatkan sel-sel tubuhnya sebelum virus menyerang. Lebih berbahaya lagi ketika kelelawar mengalami stres, mereka akan melepaskan virus lebih cepat melalui urin, kotoran, dan air liurnya sehingga berpotensi menularkan virus tersebut pada inang lain sebelum menularkannya pada manusia.

Keistimewaan kelelawar sebagai mamalia yang dapat terbang merupakan proteksi bagi tubuhnya dari serangan virus. Ketika terbang, mereka akan meningkatkan metabolisme dan sistem kekebalan tubuh yang membuat hewan ini lebih toleran terhadap virus. Untuk itulah meskipun kelelawar sebagai inang virus, mereka bisa bertahan hidup berdampingan dengan virus-virus tersebut. Selain itu, dibandingkan dengan mamalia lain, mereka juga memiliki rentang hidup yang cenderung lebih panjang.

Komentar