Home » Burung Kicau » Kakatua Raja: Ciri-ciri, Fakta, Makanan, Habitat, Gambar

Kakatua Raja: Ciri-ciri, Fakta, Makanan, Habitat, Gambar

Kakatua raja (Probosciger aterrimus) adalah burung parrot besar berwarna hitam atau abu-abu smoky dari keluarga kakatua. Mereka memiliki penampilan yang khas dengan jambul besar yang indah. Mereka juga memiliki salah satu paruh burung parrot terbesar dan tidak biasa karena rahang atas dan bawahnya tidak menutup, yang memungkinkan lidah burung mencengkeram atau menekan kacang pada rahang atas sementara rahang bawah berusaha membukanya.

Gambar Kakatua Raja

Di antara mata dan paruh ada sepetak kulit kosong berwarna merah. Ada juga bercak merah khas di pipi yang berubah warna jika burung sedang bersemangat atau khawatir. Pada burung muda, bulu bagian bawahnya dilapisi dengan warna kuning pucat dan pada burung di bawah usia 18 bulan ujung paruh dan cincin di sekitar matanya berwarna putih.

Kakatua raja memiliki banyak nama lain, antara lain palm cockatoo, goliath cockatoo, dan great black cockatoo. Panjang tubuhnya 55-60 cm dengan rentang sayap 70-100 cm dan berat 910-1.200 gram. Kakatua raja bisa terbang dengan kecepatan 69 km/jam dan punya harapan hidup 40-60 tahun.

Persebaran

Kakatua raja mendiami daerah Papua dan Semenanjung Cape York di Queensland utara, Australia, dan juga di sebuah daerah dekat Sorong di Papua Barat. Mereka hidup di hutan hujan, seperti hutan galeri, tepi hutan, hutan eucalyptus dan paperbark, hutan monsun, sabana lebat, dan sebagian kawasan yang ditebangi. Mereka memilih pohon besar untuk bertengger dan bersarang.

Kebiasaan dan Cara Hidup

Kakatua raja sering ditemukan sendirian, berpasangan, atau dalam kelompok yang lebih besar. Terkadang mereka tinggal cukup dekat dengan situs bersarang mereka, tetapi mereka dapat melakukan perjalanan jauh untuk mencari makanan atau air. Beberapa pohon untuk tempat bersarang ada dalam wilayah mereka. Mereka mengunjungi tempat-tempat ini di sepanjang tahun karena berbagai alasan dan akan meningkatkan frekuensi kunjungan di musim kawin.

Seringkali mereka makan dalam kelompok besar, satu burung “penjaga” mengawasi burung pemangsa. Jika predator atau ancaman lain muncul, burung “penjaga” akan mengeluarkan suara teriakan untuk memperingatkan kawanan. Kakatua adalah burung yang sangat sosial, berkumpul pada pagi hari dalam kelompok di lokasi favorit mereka untuk berinteraksi dan bersolek.

Mereka bertengger di siang hari di dekat sumber makanan atau air dan pada malam hari mereka bertengger di pohon sarang atau di dekatnya. Selama hujan mereka dapat ditemukan mandi, menggantung terbalik, atau merentangkan sayap dan ekor mereka.

Makanan

Foto Kakatua Raja

Kakatua raja terutama memakan kuncup daun, buah-buahan, dan biji-bijian. Mereka juga terkadang mengonsumsi serangga dan larva mereka.

Reproduksi

Kakaktua raja adalah burung monogami dan pasangan tetap bersama seumur hidup. Pembiakan biasanya berlangsung dari bulan Agustus hingga Januari, tetapi dapat bervariasi sesuai dengan iklim setempat. Burung-burung ini tidak mampu menggali rongga sarang, jadi mereka menggunakan rongga yang telah dilubangi di pohon-pohon besar, seperti palem. Selama bertahun-tahun tempat yang sama sering digunakan.

Kakatua raja mengeluarkan sebutir telur sekali bertelur dan inkubasi dilakukan oleh kedua orang tua selama antara 30 sampai 33 hari. Anak kakatua raja menjadi dewasa dalam waktu 100 hingga 110 hari dan ini merupakan periode tumbuh burung parrot yang paling lama.

Setelah meninggalkan sarangnya, anak burung masih akan bergantung pada orang tuanya selama setidaknya 6 minggu lagi karena ketidakmampuannya untuk terbang. Burung muda kemudian akan mencapai kebebasan, tetapi masih akan tetap relatif dekat dengan orang tuanya sampai musim kawin berikutnya. Burung muda akan matang secara seksual pada usia 7 hingga 8 tahun.

Populasi

Ancaman Populasi

Kakatua raja terancam oleh hilangnya habitat melalui penebangan dan kebakaran musiman, yang setiap tahun menghancurkan pohon sarang mereka dalam jumlah yang signifikan. Di Papua mereka diburu demi memenuhi permintaan tinggi dalam perdagangan burung peliharaan karena penampilan mereka yang tidak biasa.

Jumlah Populasi

Menurut Daftar Merah IUCN, ukuran populasi global kakatua raja belum dihitung, tetapi spesies ini masih tercatat relatif umum dan tampaknya memiliki populasi keseluruhan yang besar. P. a. macgillivrayi, salah satu dari empat subspesies yang diakui, diyakini memiliki populasi stabil sekitar 3.000 ekor. Kakaktua raja diklasifikasikan sebagai Least Concern (LC) atau Berisiko Rendah dalam daftar spesies yang terancam tetapi jumlahnya menurun.

Peran Ekologis

Kakatua raja memainkan peran dalam penyebaran benih banyak pohon yang menghasilkan buah yang mereka makan.

Fakta-fakta Menarik Lainnya

~ Kakaktua raja memiliki paruh burung parrot terbesar di bawah hyacinth macaw. Paruh yang kuat ini membuat kakatua raja dapat memakan biji dan kacang yang sangat keras yang sulit diatasi oleh spesies lain.

~ Sepetak kulit merah di pipi kakatua raja dapat berubah warna, tergantung pada kesehatan atau tingkat stres mereka. Ketika sangat tertekan kulit itu akan berubah menjadi merah muda/krem, dan ketika sangat bersemangat akan berubah menjadi kuning. Burung-burung ini dapat mengungkapkan atau menyembunyikan kulit pipi tersebut dengan mengubah posisi bulu wajah mereka.

~ Kakatua raja membuat panggilan bersiul keras dan termasuk yang paling keras dari spesies parrot. Panggilan yang paling umum adalah panggilan kontak, peluit atau siulan panjang, dari dua suku kata. Ketika khawatir, mereka akan membuat suara pekikan yang tajam dan keras. Mereka juga membuat suara dengusan, tangisan sedih, ratapan, peluit, dan suara-suara berisik lainnya.

~ Kakaktua raja juga dapat berkomunikasi dengan menginjak-injak di atas tempat bertengger mereka, menabuh pohon dengan tongkat atau kacang, sebanyak 200 kali, biasanya untuk tujuan menegaskan batas wilayah. Jambul yang tegak juga mengkomunikasikan suasana hati.

~ Perilaku bersarang burung ini unik pada kakatua karena mereka membangun platform yang terbuat dari ranting di dalam rongga sarangnya.

Komentar