Home » Burung » Kakatua Putih: Ciri-ciri, Fakta, Makanan, Habitat, Gambar

Kakatua Putih: Ciri-ciri, Fakta, Makanan, Habitat, Gambar

Kakatua putih (Cacatua alba), juga dikenal sebagai white cockatoo dan umbrella cockatoo, adalah kakaktua besar dengan bulu putih dan mata hitam atau coklat/kemerahan serta kaki dan paruh abu-abu gelap. Nama “umbrella” diberikan karena jambul besarnya yang melengkung ke belakang, yang bisa terbuka lebar seperti payung dan menyebar. Ketika diturunkan, bulu-bulu jambulnya akan terlipat kembali ke atas kepala burung dan jambulnya pun menjadi sulit terlihat.

Gambar burung kakatua putih

Kakatua ini memiliki beberapa lapisan bulu berwarna lemon di bagian bawah sayap dan ekornya, dan warna ini berkilat ketika mereka terbang. Pejantan dan betina memiliki lingkar biru pucat di sekitar mata mereka, pejantan memiliki iris coklat gelap dan betina memiliki iris kemerahan. Betina juga biasanya memiliki kepala dan paruh yang lebih kecil daripada jantan.

Burung kakatua putih panjangnya sekitar 46 cm dengan berat 400-800 gram. Mereka bisa hidup antara 30 sampai 40 tahun lamanya.

Persebaran

Kakatua putih adalah satwa asli pulau-pulau Indonesia di Maluku Utara dan Tengah (Kepulauan Maluku), khususnya pulau Bacan, Kasiruta, Halmahera, Tidore, Ternate, dan Mandioli. Mereka juga hidup di pulau Obi dan Bisa, tetapi diperkirakan bahwa burung-burung ini adalah hewan peliharaan yang kabur.

Kakatua putih mendiami daerah berhutan dan ditemukan di hutan pepohonan terbuka dan hutan lebat, bakau, rawa, dan daerah pertanian. Mereka terutama umum ditemukan di sekitar tepi hutan terbuka dan sungai. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan di kanopi pohon.

Kebiasaan dan Cara Hidup

Kakatua putih biasanya muncul sendiri-sendiri, berpasangan atau dalam kelompok kecil, dan terkadang dalam kelompok berjumlah hingga 15 ekor. Mereka berkumpul di sore hari dalam kawanan sebanyak 50 burung. Meskipun burung-burung ini sosial, selain dari pasangan kawin mereka biasanya tidak menjalin ikatan yang erat satu sama lain. Mereka adalah burung diurnal dan biasanya menetap, meskipun beberapa dapat nomaden dan berkeliaran mencari makanan.

Burung kakatua putih berkomunikasi dengan teman-teman mereka melalui berbagai suara dan gerak tubuh. Mereka saling menggaruk saat ritual kawin. Mereka juga terlihat membenturkan potongan kayu pada batang kayu dan pohon untuk memperingatkan burung-burung lain bahwa wilayah tersebut adalah milik mereka. Kakatua putih menggunakan vokalisasi keras, terkadang untuk komunikasi. Mereka mengeluarkan suara jeritan keras atau pekikan dan mereka bisa mendesis ketika khawatir.

Makanan

Foto burung kakatua putih

Kakatua putih biasanya memakan beragam kacang-kacangan, biji-bijian, dan buah-buahan, seperti durian, pepaya, langsat, dan rambutan. Makanan mereka lainnya adalah kadal dan serangga besar seperti jangkrik.

Reproduksi

Kakatua putih adalah monogami, artinya pasangan sejodoh hidup bersama selamanya. Pada musim kawin, pejantan akan memamerkan dan mengembangkan jambulnya untuk menarik perhatian betina. Musim kawin biasanya terjadi dari bulan Desember hingga Maret.

Pasangan akan meninggalkan kawanannya untuk mencari tempat bersarang di pohon. Mereka biasanya membangun sarang di rongga pohon yang sangat besar dan tinggi. Betina bertelur dua, kadang tiga butir. Pejantan dan betina bergantian menginkubasi telur, yang biasanya berlangsung selama 30 hari.

Indukan biasanya hanya membesarkan satu anak. Jika anak yang pertama menetas sehat, mereka akan membesarkannya. Jika anak itu tidak sehat atau cacat, mereka akan membesarkan yang kedua. Anak kakatua putih belajar terbang ketika mereka berusia 3 bulan, tetapi masih bergantung pada induknya selama dua hingga tiga minggu berikutnya.

Ketika seekor anak kakatua putih sudah mampu menjaga dirinya sendiri, keluarga itu akan bergabung kembali dengan kawanannya. Kakatua putih matang secara seksual dalam waktu enam tahun.

Populasi

Ancaman Populasi

Ancaman terbesar terhadap kakatua putih di alam liar adalah penangkapan ilegal untuk perdagangan burung hias. Kehilangan habitat dan perburuan adalah ancaman lebih lanjut.

Jumlah populasi

Menurut Daftar Merah IUCN, ukuran total populasi kakatua putih adalah 43.000-183.000 ekor. Namun, jumlah spesies ini terus berkurang saat ini dan diklasifikasikan sebagai Terancam (EN) dalam Daftar Merah IUCN.

Peran ekologis

Kakatua putih memiliki peran penting dalam menyebarkan benih, yang penting bagi ekologi tanaman. Selain itu, sarang mereka dapat digunakan oleh hewan lain selama musim non-kawin.

Fakta-fakta Menarik Lainnya

~ Fungsi utama jambul kakatua adalah komunikasi. Ketika dinaikkan, ini dapat menunjukkan beberapa hal: ritual menarik pasangan; memanggil anggota kawanan; mempertahankan kawanan atau wilayah; atau mengekspresikan rasa ingin tahu, kegembiraan, terkejut takut, atau frustrasi.

Jika mendekati kakatua, jambul yang diangkat adalah peringatan untuk tidak menyentuh mereka, atau Anda berisiko digigit. Menurunkan jambul dapat menunjukkan keramahan, ketenangan, dan kesediaan untuk didekati secara umum.

~ Seperti halnya semua burung, kakatua putih menggunakan bahasa tubuh untuk berkomunikasi. Ketika burung menggunakan bulu-bulu di wajah mereka untuk menutupi paruh mereka, mereka menyampaikan pesan yang ramah dan tidak agresif.

~ Kakatua putih adalah burung ‘powder-down,’ yang berarti bulunya menghasilkan debu yang terkadang bisa sangat berat. Preening (perilaku membersihkan bulu dengan paruh) dapat menyebarkan debu ini ke seluruh bulu mereka, memberikan kedap air yang penting untuk mengatasi iklim tropis basah.

~ Untuk mandi, kakatua putih terbang melalui daun basah di puncak pohon atau menggantung terbalik saat hujan.

~ Kakatua putih adalah burung yang sangat pintar dan penuh rasa ingin tahu. Mereka dapat menggunakan cabang pohon untuk menggaruk punggung mereka. Mereka juga bisa memanjat dan melakukan senam.

Komentar