Home » Mamalia » Fakta Lengkap Harimau Jawa, Benarkah Mereka Sudah Punah?

Fakta Lengkap Harimau Jawa, Benarkah Mereka Sudah Punah?

Harimau Jawa (Javan tiger) adalah populasi Panthera tigris sondaica, yang hidup di pulau Jawa, Indonesia, hingga pertengahan 1970-an. Mereka diburu hingga punah dan habitat aslinya dikonversi untuk digunakan manusia. Mereka adalah salah satu dari tiga populasi harimau di Kepulauan Sunda.

Profil Harimau Jawa

Sebelumnya, harimau Jawa dianggap sebagai subspesies harimau yang berbeda, yang telah dinilai punah dalam Daftar Merah IUCN pada tahun 2008. Pada tahun 2017, taksonomi pertama direvisi dan harimau Jawa disubordinasikan ke dalam Panthera tigris sondaica, yang juga mencakup harimau Sumatra yang masih eksis.

Hasil analisis mtDNA dari 23 sampel harimau dari koleksi museum menunjukkan bahwa harimau ini menjelajah Kepulauan Sunda selama periode glasial terakhir sekitar 110.000-12.000 tahun yang lalu.

Taksonomi

Pada tahun 1844, Temminck memberikan nama ilmiah Felis tigris sondaicus kepada harimau Jawa.

Pada tahun 1929, ahli taksonomi Inggris, Reginald Innes Pocock, memasukkan harimau Jawa di bawah genus Panthera menggunakan nama ilmiah Panthera tigris.

Pada tahun 2017, Cat Classification Task Force dari Cat Specialist Group merevisi taksonomi kucing dan sekarang mengakui populasi harimau yang hidup dan punah di Indonesia sebagai Panthera tigris sondaica.

Karakteristik

Gambar Asli Harimau Jawa

Harimau Jawa berukuran kecil dibandingkan dengan subspesies lain di daratan Asia, tetapi lebih besar dari harimau Bali, dan ukurannya hampir sama dengan harimau Sumatra. Mereka biasanya memiliki garis-garis panjang dan tipis, yang sedikit lebih banyak daripada harimau Sumatera.

Hidung harimau Jawa panjang dan sempit, bidang oksipitalnya sangat sempit dan karnasialnya relatif panjang. Berdasarkan perbedaan tengkorak ini, harimau Jawa diusulkan untuk digolongkan dalam spesies yang berbeda dengan nama taksonomi Panthera sondaica.

Harimau Jawa jantan memiliki panjang tubuh rata-rata 248 cm dan beratnya antara 100-141 kg. Betina lebih kecil dari pejantan dan beratnya antara 75-115 kg.

Ukuran tubuh harimau Jawa yang lebih kecil dikaitkan dengan aturan Bergmann dan ukuran spesies mangsa yang tersedia di Jawa, yang lebih kecil dari spesies hewan bertanduk dan berkuku belah yang hidup di daratan Asia. Namun, diameter jejaknya lebih besar daripada harimau Bengal di Bangladesh, India, dan Nepal.

Charles Frederick Partington menulis bahwa harimau Jawa dan harimau Sumatera cukup kuat untuk mematahkan kaki kuda atau kerbau dengan cakar mereka, meskipun mereka tidak seberat harimau Bengal.

Habitat dan ekologi

Pada akhir abad ke-19, harimau Jawa mendiami sebagian besar wilayah pulau Jawa. Sekitar tahun 1850-an, orang-orang yang tinggal di daerah pedesaan masih menganggapnya sebagai hama pengganggu. Pada tahun 1940-an, harimau Jawa telah mundur ke daerah pegunungan dan hutan terpencil.

Pada sekitar tahun 1970-an, satu-satunya harimau yang dikenal tinggal di wilayah Gunung Betiri, dengan ketinggian 1.192 meter, gunung tertinggi di tenggara Jawa, yang belum dihuni manusia karena medan yang kasar dan landai. Pada tahun 1972, area seluas 500 km persegi dikukuhkan sebagai suaka margasatwa. Harimau ini terakhir kali terlihat di sana pada tahun 1976.

Harimau Jawa memangsa rusa, banteng, dan babi hutan, sesekali unggas air dan reptil. Tidak ada yang diketahui tentang masa kehamilan atau masa hidup mereka di alam liar atau di penangkaran. Hingga Perang Dunia II, harimau Jawa masih dipelihara di beberapa kebun binatang Indonesia, tetapi ini ditutup selama masa perang. Setelah perang usai, mereka sangat jarang sehingga lebih mudah untuk melihat harimau Sumatra.

Pemusnahan

Foto Harimau Jawa

Pada awal abad ke-20, sebanyak 28 juta orang tinggal di pulau Jawa. Produksi beras tahunan tidak mencukupi untuk memasok kebutuhan populasi manusia yang tumbuh secara signifikan, sehingga dalam waktu 15 tahun ada lebih dari 150% lahan yang dibuka untuk area persawahan.

Pada tahun 1938, hutan alam menutupi 23% dari pulau ini. Pada tahun 1975, hanya 8% hutan yang tersisa, dan populasi manusia telah meningkat menjadi 85 juta orang. Dalam lanskap yang didominasi manusia ini, pemusnahan harimau Jawa diintensifkan oleh gabungan beberapa keadaan dan peristiwa, antara lain:

Harimau dan mangsanya diracun di banyak tempat selama periode ketika habitat mereka berkurang dengan cepat.

Hutan alam semakin terfragmentasi setelah Perang Dunia II untuk perkebunan jati, kopi, dan karet yang merupakan habitat yang tidak cocok untuk satwa liar.

Rusa, spesies yang menjadi mangsa terpenting harimau, hilang karena penyakit di beberapa cagar alam dan hutan selama era 1960-an.

Selama periode kerusuhan sipil setelah tahun 1965, kelompok-kelompok bersenjata mundur ke tempat cagar alam, di mana mereka membunuh harimau yang tersisa.

Upaya penyelamatan terakhir

Hingga pertengahan 1960-an, harimau Jawa bertahan di tiga kawasan lindung yang telah didirikan selama era 1920-an dan 1930-an: Cagar Alam Leuweng Sancang, Taman Nasional Ujung Kulon, dan Taman Nasional Baluran. Namun setelah periode kerusuhan sipil, tidak ada harimau yang terlihat di sana.

Pada tahun 1971, seekor harimau betina tua ditembak di sebuah perkebunan di dekat Gunung Betiri di sebelah tenggara Jawa. Sejak saat itu, tidak ada satu ekor anak harimau pun yang tercatat. Kawasan ini ditingkatkan menjadi suaka margasatwa pada tahun 1972, di mana saat itu dibentuk pasukan penjaga kecil dan empat proyek pengelolaan habitat dimulai.

Cagar alam sangat terganggu oleh dua perkebunan besar di lembah sungai utama, yang menempati habitat yang paling cocok untuk harimau dan mangsanya. Pada tahun 1976, jejak harimau ditemukan di bagian timur cagar, menunjukkan keberadaan tiga hingga lima ekor harimau. Hanya beberapa banteng yang bertahan dekat dengan perkebunan, tetapi jejak rusa, mangsa favorit harimau Jawa, tidak terlihat.

Setelah tahun 1979, tidak ada lagi penampakan harimau Jawa yang dikonfirmasi di Taman Nasional Meru Betiri. Pada tahun 1980, Seidensticker dan Suyono merekomendasikan untuk memperluas cagar alam dan sepenuhnya menghilangkan pengaruh manusia yang mengganggu ekosistem yang rapuh ini.

Otoritas Konservasi Alam Indonesia menerapkan rekomendasi ini pada tahun 1982 dengan memandang cagar sebagai taman nasional. Namun langkah-langkah ini sudah terlambat untuk menyelamatkan beberapa harimau yang tersisa di wilayah tersebut. Pada tahun 1987, sekelompok 30 mahasiswa dari Institut Pertanian Bogor melakukan ekspedisi ke Meru Betiri. Dalam kelompok beranggotakan lima orang ini, mereka mencari di daerah itu dan menemukan kotoran dan jejak harimau.

Di bagian barat Jawa ada Cagar Alam Halimun yang saat ini terintegrasi ke dalam Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Pada tahun 1984, seekor harimau terbunuh di sana; dan pada tahun 1989, tapak kaki seukuran harimau ditemukan. Namun, ekspedisi enam ahli biologi yang dilakukan pada tahun 1990 tidak menghasilkan bukti langsung dan pasti tentang keberadaan harimau.

Survei berikutnya direncanakan di Taman Nasional Meru Betiri pada tahun 1992 dengan dukungan WWF Indonesia, menyebarkan perangkap kamera untuk pertama kalinya. Dari bulan Maret 1993 hingga Maret 1994, kamera diposisikan di 19 situs, tetapi kamera tidak menghasilkan gambar harimau. Selama periode ini, tidak ada jejak yang menunjukkan keberadaan harimau. Setelah laporan akhir survei ini diterbitkan, harimau Jawa akhirnya dinyatakan punah.

Rumor dan indikasi kemungkinan keberadaan harimau di Taman Nasional Meru Betiri mendorong Kepala Taman Nasional, Indra Arinal, untuk memulai pencarian lagi. Dengan dukungan Proyek Harimau Sumatera, 12 anggota staf taman nasional dilatih pada tahun 1999 untuk memasang perangkap kamera dan memetakan pengamatan mereka. The Tiger Foundation dari Kanada menyediakan kamera inframerah. Dan meskipun sudah satu tahun bekerja, mereka tidak bisa memotret harimau, hanya mendapatkan potret sedikit hewan mangsa dan banyak pemburu gelap.

Dugaan penampakan

Foto Penampakan Harimau Jawa

Terkadang, laporan tidak resmi tentang harimau Jawa muncul dari orang-orang yang percaya bahwa harimau ini masih ada di Jawa.

Pada bulan November 2008, mayat seorang pendaki gunung wanita yang tidak dikenal ditemukan di Taman Nasional Gunung Merbabu, Jawa Tengah, yang diduga tewas karena serangan harimau. Warga desa yang menemukan jenazah tersebut juga mengklaim beberapa penampakan harimau di sekitarnya.

Dugaan penampakan terjadi di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, pada bulan Januari 2009. Beberapa warga desa mengaku melihat harimau betina dengan dua anaknya berkeliaran di dekat desa yang berbatasan dengan Gunung Lawu. Berita ini memicu kepanikan massal. Pemerintah setempat mencari beberapa jalur baru di lokasi tersebut. Namun pada saat itu hewan-hewan tersebut sudah menghilang.

Menyusul letusan Gunung Merapi pada bulan Oktober 2010, dua warga desa mengklaim telah melihat jejak kaki kucing besar di sisa-sisa abu, yang memicu desas-desus bahwa seekor harimau atau macan tutul sedang berkeliaran di daerah pertanian yang ditinggalkan untuk mencari makanan. Personil dari taman nasional terdekat tidak menganggap bahwa jejak kaki itu adalah milik harimau.

Pada tahun 2016, seekor ‘terduga’ harimau Jawa terfoto di Gunung Arjuno di Jawa Timur. Foto itu menjadi viral, tetapi beberapa kalangan skeptis tentang penampakan itu karena hutannya tidak dalam kondisi yang baik. Investigasi dilakukan dan, jika terbukti benar, kewaspadaan akan lebih diperketat karena tempat tersebut disukai oleh para pemburu.

Pada tanggal 25 Agustus 2017, seorang penjaga hutan yang bekerja di Taman Nasional Ujung Kulon mengambil foto seekor harimau Jawa yang sedang memakan bangkai seekor sapi jantan. Sebuah tim peneliti kemudian memulai ekspedisi selama sepuluh hari untuk memvalidasi keberadaan harimau ini. Perwakilan tim peneliti kemudian mengatakan bahwa mereka membutuhkan waktu hingga dua bulan untuk mendapatkan kesimpulan yang kuat. Seorang ahli harimau mengidentifikasi bahwa hewan itu adalah macan tutul Jawa yang terancam punah namun masih eksis.

Komentar