Home » Dunia Binatang » Anoa, Satwa Unik dan Langka dari Sulawesi

Anoa, Satwa Unik dan Langka dari Sulawesi

Anoa (Bubalus sp.) adalah satwa yang sudah mulai langka keberadaanya. Hewan ini sangat mirip dengan kerbau; perbedaannya hanya terletak pada ukuran tubuhnya. Anoa memiliki tubuh yang lebih kecil jika dibandingkan dengan kerbau. Anoa tubuhnya sebesar kambing, namun penampilannya mirip seperti kerbau. Satwa yang satu ini sudah termasuk binatang yang sangat langka sehingga harus dilestarikan.

anoa

anoa

Anoa merupakan hewan mamalia terbesar. Anoa pertama kali ditemukan di sebuah pulau di daratan Sulawesi, yaitu di Pulau Buton. Beberapa orang menyebut anoa sebagai kerbau kecil karena memang bentuk tubuh hewan ini sangat mirip dengan kerbau, hanya saja ukuran tubuhnya yang hanya sebesar kambing.

Anoa termasuk ke dalam keluarga bovidae yang hampir semuanya ditemukan di seluruh pulau dan hutan di Sulawesi. Anoa juga ditemukan di Kawasan Wallasea yang terdiri atas pulau Maluku, Pulau Sulawesi, Kepulauan Flores, wilayah, Halmahera, dan juga pulau-pulau kecil di sekitar bagian wilayah Nusa Tenggara barat dan Nusa Tenggara Timur.

Anoa (Bubalus sp.) masuk ke dalam daftar hewan atau satwa langka yang dilestarikan. Walaupun anoa adalah hewan liar, keberadaanya sangat dilindungi sejak tahun 1931. Ini sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia, yaitu dengan dipertegasnya di Undang-undang no. 5 tahun 1990 serta Peraturan Pemerintah no. 7 tahun 1997.

Anoa memiliki dua spesies yaitu :

  1. Anoa pegunungan (Bubalus quarlesi)
  2. Anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis)

Dari kedua spesies ini ada perdebatan tentang status taksonimnya, akan tetapi setelah diadakannya penelitian terbaru atas hewan langka ini dengan menggunakan teknologi terbaru system DNA barcode, telah dibuktikan bahwa kedua spesies ini merupakan jenis yang berbeda.

Keduanya juga merupakan spesies dari jenis yang berbeda karena anoa sangat agresif dan sangat sulit untuk dijinakkan. Hewan ini biasanya ada did alam hutan yang tidak bisa dijangkau oleh manusia sehingga sangat wajar hewan liar yang satu ini agresif dan juga sulit dijinakan.

Berdasarkan jenisnya, anoa gunung relatif lebih kecil dan mempunyai buntut yang lebih pendek dan agak lembut. Mereka juga mempunyai tanduk persis seperti kerbau, yaitu tanduk melingkar. Sedangkan anoa dari wilayah dataran yang lebih rendah mempunyai buntut atau ekor yang lebih panjang dan memiliki tanduk yang kasar dan membentuk segitiga.

Konservasi

Di dunia internasional, Anoa memiliki peran penting dalam sebuah kegiatan konservasi “Wallacea bioregion.” Hingga sekarang¬† kegiatan ini masih diadakan yang bertujuan untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat akan perlindungan hewan-hewan langka seperti anoa. Kegiatan ini berlangsung sejak tahun 1986 sampai tahun 2007. International Union for Conservation of Nature (IUCN) menjadikan anoa menjadi salah satu binatang yang terancam punah dan harus dilestarikan, karena jumlah keberadaan anoa dewasa secara keseluruhan hanya sekitar kurang dari 2.500 ekor dengan prediksi terjadi penurunan yang drastis di alam liar. Dalam sekitar kurang lebih 14 hingga 18 tahun terakhir ini, jumlah mereka turun mencapai 30%.

Berdasarkan informasi dari sebaran peta anoa, populasi hewan ini semakin langka terutama di Sulawesi bagian utara yang penurunannya sangat drastis dibandingkan wilayah Sulawesi lainnya. Hal ini diperjelas dengan adanya bukti-bukti di beberapa wilayah konservasi di Sulawesi bagian Utara seperti di Cagar Alam (CA) Tangkoko Batuangus, CA. Gunung Ambang, dan CA. Manembo-nembo, anoa telah diputuskan sebagai hewan lokal yang sudah punah karena dalam lima tahun terakhir ini diprediksi jumlahnya hanya sekitar kurang dari 6.000 ekor saja yang masih ada dan bertahan hidup. Anoa ini banyak diburu oleh masyarakat untuk diambil kulit dan bagian tanduknya serta dagingnya.

Anoa mempunyai bentuk tubuh yang identik sekali dengan kerbau, bahkan banyak orang yang menyebutnya sebagai kerbau kerdil atau kerbau kecil. Anoa dari dataran rendah atau biasa disebut Bubalus depressicornis mempunyai tinggi pundak sekitar 80 hingga 100 cm, sedangkan anoa dari dataran tinggi atau biasa disebut Bubalus quarlessi mempunyai tinggi pundak sekitar 60 hingga 75 cm.

Penjelasan mengenai ukuran hewan anoa sama persis dengan penjelasan dari Groves (1969) yang menjelaskan bahwa anoa dari dataran rendah ukurannya lebih besar jika dibandingkan dengan anoa yang ada di dataran tinggi. Kepala anoa sangat menyerupai sapi, sedangkan kaki dan kukunya mirip dengan banteng dan tanduknya menyerupai tanduk kerbau.

Komentar