Home » Kucing Lucu » 6 Jenis Cedera pada Ekor Kucing yang Paling Umum

6 Jenis Cedera pada Ekor Kucing yang Paling Umum

Ekor kucing seringkali menunjukkan kepribadian dan mood kucing, baik itu pada saat ekor sedang melengkung, diam, diangkat tinggi-tinggi, atau dikibas-kibaskan. Ekor kucing memiliki banyak fungsi. Ekor digunakan untuk menjaga keseimbangan, berkomunikasi, menjaga tubuh tetap hangat, dan untuk mengekspresikan diri.

Ekor kucing

Karena alasan itulah penting bagi pemilik kucing peliharaan untuk menjaga ekor kucing mereka terbebas dari cedera dan infeksi. Untungnya, cedera pada ekor kucing relatif jarang terjadi. Meski begitu, kucing outdoor lebih berisiko, jadi memelihara kucing di dalam ruangan dapat mengurangi insiden cedera ekor secara drastis.

Jika Anda tidak dapat mencegah kucing menjelajahi dunia luar, penting untuk mewaspadai potensi bahayanya. Dalam artikel ini kami menyusun daftar jenis cedera ekor kucing yang umum agar Anda dapat mencegah dan merawatnya secara optimal.

Luka gigitan

Luka gigitan adalah salah satu cedera ekor kucing yang paling umum terlihat. Ini biasa terjadi ketika kucing melarikan diri dan ada hewan lain yang menggelayuti ekornya. Sekalipun luka gigitannya kecil dan dapat sembuh dengan sendirinya, masalah yang lebih serius dapat muncul. Penting untuk memastikan luka tidak terinfeksi. Tanda-tanda infeksi meliputi kemerahan, panas, nyeri, dan peradangan.

Untuk meminimalisir risiko infeksi, bawalah kucing yang mendapat luka gigitan parah ke dokter hewan. Dokter hewan biasanya akan membius kucing yang mendapat luka serius untuk membersihkan area tersebut sepenuhnya. Kucing kemungkinan akan diberi resep antibiotik dan obat pereda nyeri. Tergantung pada situasinya, pemilik mungkin juga harus membersihkan ekor di rumah untuk mencegah infeksi. Kucing luar harus dipelihara di dalam ruangan saat penyembuhan untuk mencegah belatung tumbuh dalam luka.

Luka gores/cakar

Jika kucing Anda mendapat luka gores, cakar, atau sayatan kecil, maka kucing cukup dirawat di rumah sampai sembuh. Untuk lecet atau luka kecil, Anda dapat menggunakan hidrogen peroksida untuk menjaga ekor tetap bersih. Lakukan pembersihan luka selembut mungkin dan gunakan kain bersih atau kain kasa. Jika tidak terlalu parah, luka mungkin akan sembuh tepat waktu dengan perawatan minimal.

Namun penting bagi Anda untuk mengawasi tanda-tanda infeksi, atau jika kucing membawa atau menggerakkan ekor secara berbeda. Perilaku ini dapat mengindikasikan cedera yang lebih serius dan patut diperiksa oleh seorang profesional.

Infeksi kulit

Ekor kucing berdiri

Meski beberapa infeksi kulit disebabkan oleh jenis trauma yang disebutkan di atas, seperti luka dari gigitan hewan yang tidak diobati, penyebab paling umum adalah gigitan kutu atau reaksi alergi. Apa pun penyebabnya, jika kulit menjadi meradang, merah, dan gatal, sebaiknya berkonsultasilah dengan dokter hewan tentang perawatan yang tepat.

Kucing yang mengidap dermatitis kutu memerlukan obat kutu untuk menghilangkan penyebab utamanya. Kebanyakan kucing ini juga membutuhkan steroid untuk membantu mengurangi rasa gatal yang parah dan terkadang antibiotik jika mereka memiliki infeksi kulit sekunder. Merawat kucing dengan obat pencegah kutu di sepanjang tahun dapat mencegah masalah ini muncul.

Dan walaupun Anda mungkin cenderung mengobati infeksi kulit kucing di rumah dengan salep bebas, Anda sebaiknya tidak melakukannya. Obat topikal seperti krim dan salep antibiotik harus dihindari pada kucing karena kebanyakan kucing akan menjilat dan menelan obat topikal.

Fraktur atau dislokasi tulang

Patah dan dislokasi tulang ekor sering terjadi karena trauma, seperti tertabrak mobil atau ekor secara tidak sengaja terjepit pintu. Terkadang gejalanya yang jelas, seperti ekor yang terkulai, membuat cedera jenis ini cukup mudah dikenali. Tetapi cedera ini tidak sejelas luka gigitan, jadi dokter hewan mungkin perlu melakukan x-ray untuk memastikan adanya fraktur atau dislokasi.

Meski patah tulang kecil seringkali dapat sembuh sendiri, cedera yang lebih serius mungkin memerlukan amputasi. Meskipun ini mungkin terdengar menakutkan, sebagian besar kucing akan baik-baik saja setelah operasi dan mereka dapat beradaptasi dan berfungsi dengan baik tanpa ekor.

Degloving

Meskipun tidak umum seperti cedera lainnya, kucing Anda mungkin mengalami cedera degloving jika dia tertabrak atau terseret oleh mobil. Degloving terjadi ketika sejumlah besar kulit terkoyak dari jaringan di bawah ekor. Cedera ini bisa sangat serius dan membutuhkan perawatan segera oleh dokter hewan. Menurut sebuah artikel tentang perawatan luka degloving dari jurnal yang diulas sejawat, Clinician’s Brief, kulit, jaringan, otot, dan bahkan tulang dapat robek oleh gesekan, dan puing-puing serta bakteri dapat tertanam dalam luka, menyebabkan infeksi.

Karena faktor-faktor ini, cedera degloving pada kucing seringkali memerlukan operasi. Perawatan untuk cedera degloving biasanya adalah amputasi ekor ke titik di mana ada jaringan normal.

Cedera “Fan Belt”

Sejumlah kucing juga mengalami apa yang disebut sebagai cedera ‘fan belt.’ Ini sering terjadi dalam cuaca dingin ketika kucing mencari kehangatan di mesin mobil yang baru saja diparkir. Ketika mobil dinyalakan kembali, ekornya dapat terperangkap dan tertarik ke mesin mobil yang sedang berjalan. ”Jenis cedera ini dapat menyebabkan kelumpuhan pada ekor dan kerusakan saraf. Dan yang lebih memprihatinkan, ini kadang-kadang dapat melukai saraf yang memasok kandung kemih, sehingga kucing mungkin tidak dapat buang air kecil.

Perawatan umum untuk cedera fan belt adalah adalah amputasi ekor. Sangat penting untuk mencari perawatan hewan segera, terutama jika kucing Anda tidak dapat buang air kecil. Meski amputasi ekor bisa efektif dalam memulihkan fungsi kandung kemih kucing, cedera fan belt terkadang menimbulkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki dan bahkan dapat menyebabkan kematian.

Komentar