Home » Dunia Binatang » 25 Hewan yang Sangat Terancam Punah di Dunia

25 Hewan yang Sangat Terancam Punah di Dunia

Sebagian besar hewan dalam daftar ini terancam punah. Spesies yang terancam punah adalah binatang atau tumbuhan yang kemungkinan besar akan musnah, kecuali jika suatu upaya dilakukan untuk mencegahnya lenyap selamanya. International Union for the Conservation of Nature (IUCN) mendaftar spesies yang rentan, terancam atau hampir punah, serta spesies yang sangat terancam punah. Pada tahun 2014, IUCN mendaftarkan 2.464 jenis hewan sebagai satwa terancam punah.

Hewan Terancam Punah

Jumlah yang bertahan hidup dari beberapa hewan ini mungkin hanya ratusan, sementara yang lain bisa mencapai ribuan, atau bahkan puluhan ribu, mendorong banyak pihak untuk menyepelekan masalah ini. Tetapi dunia berubah sangat cepat akhir-akhir ini karena kelebihan populasi, perselisihan politik, penggundulan hutan, kebakaran hutan, menghilangnya sumber air tawar, dan perubahan iklim yang semakin drastis.

Perlu diingat bahwa kompilasi ini ditulis tanpa urutan tertentu, karena hampir tidak mungkin untuk memastikan seberapa terancamnya hewan-hewan ini sebenarnya; namun entri terakhir bisa jadi merupakan hewan yang paling terancam di planet ini.

1. Harimau Bengal (Panthera tigris tigris)

Harimau Bengal

Harimau Bengal tinggal di India, Bangladesh, Bhutan, dan Nepal. Pada tahun 2014, sekitar 2.500 hingga 3.000 harimau Bengal ada di negara-negara ini, meskipun tidak ada zona habitat harimau dalam range ini yang dianggap cukup besar untuk menampung lebih dari 250 ekor harimau. Perburuan liar dan hilangnya habitat menjadi alasan penurunan spesies ini.

Meskipun harimau dianggap sebagai spesies yang karismatik, mereka terancam punah di seluruh dunia, termasuk genus yang mencakup harimau Siberia dan subspesies lain seperti harimau Sumatra. Untungnya, karena banyak program konservasi untuk harimau, seperti Save Tigers Now Foundation (disponsori oleh aktor Leonardo DiCaprio dan World Wide Fund for Nature atau WWFN), mereka dapat bertahan hidup di alam liar selama beberapa dekade.

2. Gharial (Gavialus gangeticus)

Gharial

Gharial, buaya moncong panjang pemakan ikan yang ditemukan di bagian utara anak benua India, telah mengalami penurunan tajam dalam populasinya sejak 1930-an. Sekarang mereka sangat dekat dengan kepunahan; perkiraan terbaru menunjukkan bahwa hanya ada sekitar 100 hingga 300 ekor gharial yang bertahan di alam liar. Tumbuh dengan panjang 4 hingga 6 meter, gharial hidup di sistem sungai Pakistan, India, Nepal dan Bangladesh.

Sayangnya, ledakan populasi manusia di negara-negara ini telah menciptakan bahaya antropogenik yang besar bagi gharial, terutama hilangnya habitat, polusi, proyek pembangkit listrik tenaga air, perburuan, dan kematian oleh jaring ikan. Program konservasi gharial pun digalakkan karena pemerintah India berdedikasi untuk menyelamatkan spesies ini sebelum mereka benar-benar sepenuhnya musnah.

3. Gorila gunung (Gorilla beringei beringei)

Mountain Gorilla

Sebagai salah satu dari dua subspesies gorila timur, gorila gunung terdaftar sebagai satwa sangat terancam punah oleh IUCN; pada tahun 2018, hanya ada sekitar 1.000 gorila gunung di dua populasi terpisah di daerah pegunungan Afrika Tengah, tempat tiga taman nasional berada. Yang menarik, gorila gunung memiliki bulu yang tebal karena habitatnya terletak tinggi di zona vulkanik, sekitar 7.000 hingga 14.000 kaki dpl yang umumnya berkabut dan dingin atau mendung.

Seekor gorila gunung jantan dewasa dapat memiliki berat hingga 226 kg dan memakan 35 kg vegetasi, buah, dan serangga per hari. Sayangnya, gorila gunung terdesak oleh banyaknya ancaman: perburuan liar, hilangnya habitat, penyakit, perang, dan kerusuhan politik. Sederhananya, gorila gunung akan bertahan hidup selama mereka dilindungi oleh manusia dan terbebas dari berbagai masalah yang dibawa manusia

4. Vaquita (Phocoena sinus)

Vaquita

Spesies lumba-lumba, vaquita, sudah berdiri di ambang kepunahan. Mungkin hanya ada 10 atau 12 ekor dari mereka yang tersisa di alam liar per Maret 2018. Konsekuensinya, vaquita menjadi cetacean (mamalia akuatik) paling terancam di dunia.

Jumlah vaquita telah berkurang secara drastis sejak tahun 1996. Alasan utamanya adalah karena Laut Cortez, atau Teluk California, telah menjadi pusat penangkapan ikan yang berlebihan, dan vaquita kadang-kadang terperangkap dalam jaring ikan dan mati, sama seperti lumba-lumba lainnya yang secara tidak sengaja terbunuh.

Pemerintah Meksiko telah menghabiskan puluhan juta dolar untuk mencegah penangkapan tak sengaja yang mematikan ini, tetapi hasilnya suram bagi vaquita yang malang. Jika tindakan drastis tidak segera dilakukan, vaquita akan punah. Mereka akan menyusul cetacean pertama yang punah, baiji, lumba-lumba Sungai Yangtze yang punah pada 1980-an.

5. Lemur ekor cincin (Lemur catta)

Ring-Tailed Lemur

Spesies lemur yang paling terkenal dari semua lemur adalah lemur ekor cincin, dan hampir semua lemur sangat terancam punah; pada kenyataannya, 95 persen dari semua lemur setidaknya terancam punah. Alasan utama jatuhnya spesies ini adalah bahwa semua lemur hanya ditemukan di pulau Madagaskar, yang semakin lama semakin gundul dan berlangsung sangat cepat.

Saat ini, hanya ada sekitar 2.000 lemur berekor cincin yang bertahan hidup di alam liar karena hilangnya habitat, perburuan liar, dan perdagangan satwa liar. Untungnya bagi spesies lemur ini, mereka bisa bereproduksi dengan mudah di penangkaran, sehingga jumlahnya semakin banyak di kebun binatang. Oleh karena itu, prospek untuk memperkenalkan kembali makhluk-makhluk cantik ini ke alam liar bisa menjadi pilihan baik di masa depan.

Baca Juga: 9 Jenis Kupu-kupu Terlangka yang Jumlahnya Tinggal Ratusan Ekor

6. Badak hitam (Diceros bicornis)

Black Rhinoceros

Juga dikenal sebagai hooked-lip rhinoceros, badak hitam terancam punah terutama karena culanya sangat dicari oleh orang-orang yang akan menggunakannya dalam pengobatan China tradisional, meskipun tidak ada pembenaran dari ilmu pengetahuan (tanduknya tak lebih dari sel kuku). Namun demikian, cula badak saat ini dihargai melebihi emas!

Cula badak juga digunakan untuk membuat pisau dan gagang belati, permintaan eksklusif yang menyebabkan jatuhnya populasi badak hitam sebesar 95 persen dari tahun 1970 hingga 1992. Tragisnya, banyak subspesies badak Afrika lainnya telah punah. Sekarang badak hitam dijaga dengan ketat di cagar alam; jika tidak, mereka juga akan pergi selamanya. Beruntung badak putih selatan baik-baik saja; ada lebih dari 20.000 ekor yang masih hidup pada tahun 2015.

7. Dhole (Cuon alpinus)

Dhole

Dhole alias anjing liar Asia ditemukan di daerah pegunungan di Asia Tenggara, India, dan China. Kerabat anjing, coyote, serigala, jackal, dan anjing hutan lainnya ini sangat terancam punah; hanya sekitar 2.500 ekor yang ada di alam liar. Secara khusus dhole pernah tinggal di bagian Asia Tengah, Eropa, dan Amerika Utara sekitar 12.000 hingga 18.000 tahun yang lalu.

Populasi dhole telah menurun karena alasan berikut: hilangnya habitat, berkurangnya hewan mangsa, persaingan dengan spesies lain, pembunuhan oleh petani dan penggembala, dan penyakit menular dan parasit yang disebarkan oleh anjing domestik. Menariknya, dhole hampir tidak dapat dijinakkan, meskipun dhole kecil cukup jinak dan dapat bermain dengan anjing domestik sampai dewasa.

8. Monyet laba-laba cokelat (Ateles hybridus)

Brown Spider Monkey

Monyet laba-laba cokelat, ditemukan di Kolombia utara dan timur laut Venezuela, berada dalam daftar 25 Primata Paling Terancam Punah di Dunia. Mereka hidup di hutan hujan tua, sekitar 98 persen di antaranya telah menghilang dari habitat hewan ini. Tragisnya, 80 persen dari makhluk-makhluk ini sudah tidak ada lagi.

Seperti kebanyakan kera, monyet laba-laba cokelat ini utamanya memakan tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan, tetapi akan memakan apa saja jika hanya itu yang bisa dimakan. Menariknya, spesies ini memiliki mata biru, sangat tidak biasa bagi monyet laba-laba. Dengan status sangat terancam punah, perkiraan populasi mereka tidak diketahui.

9. Komodo (Varanus komodoensis)

Komodo

Semacam kadal monitor, komodo adalah kadal terbesar di dunia. Komodo dewasa dapat tumbuh hingga 3 meter dan beratnya 70 kg. Mereka ada di lima pulau kecil Indonesia, yaitu pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Padar. Faktanya, komodo adalah satu-satunya hewan karnivora besar di pulau-pulau tersebut. Mereka juga merupakan peninggalan megafauna yang mati setelah akhir masa Pleistosen.

Yang mengherankan, komodo betina dapat menghasilkan keturunan melalui partenogenesis; artinya, mereka dapat bereproduksi tanpa telurnya dibuahi. Pada tahun 2013, populasi komodo liar ditaksir hanya sekitar 3.000 ekor. Selama habitat di lima pulau tersebut dipertahankan dan mangsanya tidak hilang, komodo dapat bertahan selama bertahun-tahun yang akan datang.

10. Buaya Siam (Crocodylus siamensis)

Buaya Siam

Meskipun cakupan wilayah buaya Siam besar, jumlahnya telah menurun secara dramatis dalam beberapa tahun terakhir. Ditemukan di Asia Tenggara dan sebagian Indonesia, buaya Siam dapat tumbuh hingga 3 meter panjangnya, meskipun hibrida dapat tumbuh jauh lebih besar di penangkaran. Mereka ada di berbagai habitat, dari sungai besar, sungai kecil, danau, danau tapal kuda, rawa, dan tanah rawa.

Menariknya, ketika 99 persen dari mereka sudah punah di habitat sebelumnya, buaya Siam diternak oleh ribuan orang di peternakan buaya di Kamboja. Hilangnya habitat adalah alasan utama matinya buaya ini; alasan lain adalah penggunaan pupuk kimia dan pestisida dalam penanaman padi, peningkatan populasi ternak, perang, pembangunan bendungan, dan tertangkap di jaring nelayan. Populasi buaya Siam liar saat ini tidak diketahui.

11. Serigala Meksiko (Canus lupus baileyi)

Mexican Wolf

Serigala Meksiko adalah subspesies dari serigala abu-abu dan merupakan serigala abu-abu yang paling terancam di Amerika Utara. Setelah dianggap sebagai ancaman bagi hewan ternak, serigala-serigala ini diburu, dijebak, dan diracuni. Faktanya, pada tahun 1970-an serigala Meksiko memiliki jumlah yang sangat rendah sehingga dinyatakan sebagai spesies yang terancam punah. Pemerintah Amerika dan Meksiko kemudian menangkapi beberapa serigala yang tersisa di alam liar dan membawanya ke penangkaran.

Kemudian pada tahun 1998, serigala Meksiko yang ditangkar diperkenalkan kembali ke bagian-bagian Arizona dan New Mexico. Pada tahun 2017, sekitar 140 ekor serigala Meksiko tinggal di beberapa bagian Meksiko, Arizona, dan New Mexico, serta 240 ekor dipelihara dalam program pemuliaan di Meksiko.

12. Gajah Kalimantan (Elephas maximus borneensis)

Gajah Kalimantan

Juga dikenal sebagai gajah kerdil Kalimantan, gajah Kalimantan (Borneo) adalah subspesies gajah Asia. Karena hilangnya habitat yang meluas di pulau Kalimantan dan sebagian Malaysia, jumlah gajah Kalimantan telah menurun secara drastis sejak 1980-an, menempatkan spesies tersebut dalam Daftar Merah IUCN, yang menetapkan mereka sebagai spesies yang terancam punah secara kritis.

Secara umum lebih kecil dari gajah Afrika, gajah Kalimantan telah didomestikasi di banyak daerah, meskipun kedekatan dengan manusia telah membawanya ke banyak konflik yang menyebabkan ratusan kematian manusia dan gajah setiap tahun. Saat ini di beberapa daerah hanya ada 20 hingga 80 ekor gajah Kalimantan yang bertahan hidup di alam liar.

13. Orangutan (Pongo pygmaeus)

Orangutan

Orangutan ada di Kalimantan dan Sumatra dan terdiri atas tiga spesies terpisah dari kera besar dunia. Orangutan hidup hampir seluruhnya di pohon dan memakan buah, tumbuh-tumbuhan, madu, telur burung, dan serangga. Dianggap sangat cerdas untuk ukuran kera, orangutan sering dipelajari karena kemampuan mereka membuat alat dan menggunakannya dengan cara yang cerdas; mereka juga tahu cara mengobati penyakit mereka sendiri dengan memakan tanaman, tanah, atau mineral tertentu.

Karena hilangnya habitat, perburuan liar, dan perdagangan satwa liar, orangutan terdaftar sebagai hewan yang terancam punah. Meskipun perkiraan menunjukkan bahwa ada 100.000 ekor pada tahun 2016, jumlahnya telah menurun sebesar 80 persen dalam 75 tahun terakhir. Menurut perkiraan saat ini, ada kurang dari 50.000 ekor orangutan yang tersisa pada tahun 2025.

14. Lynx Iberia (Lynx pardinus)

Iberian Lynx

Hewan lain dalam Daftar Merah IUCN adalah lynx Iberia yang hidup di wilayah Andalusia Spanyol yang mangsa utamanya adalah kelinci Eropa. Sayangnya, jumlah kelinci tersebut menurun tajam pada 1990-an karena penyakit seperti myxomatosis dan hilangnya habitat. Pada 2000-an, hanya sekitar 100 ekor lynx Iberia yang bertahan hidup di alam liar. Tapi, karena berbagai langkah konservasi, penambahan populasi kelinci, dan program penangkaran, jumlah lynx Iberia meningkat menjadi 326 ekor pada tahun 2012.

Tetapi jumlah lynx yang rendah dapat lenyap oleh penyakit, bencana alam, atau bencana lainnya. Komisi Nasional Spanyol untuk Perlindungan Alam pun memulai program Ex situ Programme yang dapat membantu menstabilkan dan meningkatkan populasi lynx Iberia melalui konservasi dan pembiakan.

15. Tamarin berkepala kapas (Saguinus eodipus)

Cotton-top Tamarin

Monyet Dunia Baru ini ditemukan di hutan tropis Kolombia barat laut. Tamarin berkepala kapas sangat kecil; dewasanya hanya berbobot satu 0,45 kg; dan mungkin karena perawakannya yang mungil, sekitar 40.000 dari mereka digunakan untuk penelitian biomedis sebelum tahun 1976, meskipun sekarang mereka dilindungi dari eksperimen semacam itu oleh hukum internasional.

Saat ini, tamarin berkepala kapas sangat terancam karena 95 persen dari habitat aslinya telah digunduli untuk pertanian kelapa sawit, pembangunan bendungan, dan penggembalaan ternak. Tamarin berkepala kapas juga diburu oleh pedagang di perdagangan satwa liar ilegal. Akibatnya, tamarin ini menjadi salah satu primata paling terancam di dunia; hanya sekitar 6.000 ekor yang tersisa di alam liar.

16. Saola (Pseudoryx nghetinhensis)

Saola

Spesies mamalia baru ditemukan dari waktu ke waktu. Pada tahun 1992, WWFN mengumumkan penemuan saola alias unicorn Asia, spesies hidup baru yang ditemukan di Annamite Range of Vietnam (sudah 50 tahun sejak spesies mamalia besar terakhir ditemukan di alam liar!). Juga, karena karakteristik fisik saola yang tidak biasa, mereka diberi genus sendiri, Pseudoryx.

Selain itu, karena saola baru saja ditemukan dan hanya ada di daerah berhutan terpencil, tidak banyak yang diketahui tentang mereka. Oleh karena itu, jumlah saola yang masih hidup hanya bisa ditebak, meskipun otoritas satwa liar mungkin tahu tentang hal itu dan bisa menetapkannya sebagai spesies yang terancam punah.

17. Kakatua tungging ekor merah (Cacatua haematuropygia)

Red-vented Cockatoo

IUCN mencantumkan 416 spesies burung sebagai yang terancam punah pada September 2016, dan salah satu dari hewan unggas ini adalah red-vented cockatoo alias kakatua tungging ekor merah yang ditemukan di banyak pulau kecil di Filipina. Pada 1990-an, kakatua ini memiliki populasi liar tidak lebih dari 4.000 ekor burung, tetapi pada tahun 2008 jumlahnya menjadi kurang dari 1.000 ekor, menjadikannya salah satu burung paling terancam punah di planet ini.

Kakatua tungging ekor merah menurun populasinya karena hilangnya habitat dan penangkapan ilegal untuk pasar gelap satwa liar. Juga, burung-burung ini sering dibunuh karena dianggap sebagai hama lantaran mereka terkadang memakan komoditas pertanian. Untungnya, kakatua ini juga banyak ditangkarkan.

18. Kura-kura radiata (Astrochelys radiata)

Baby Radiated Tortoises (Astrochelys radiata)

Ditemukan di pulau Madagaskar, yang telah kehilangan 90 persen hutan aslinya selama berabad-abad sejak manusia pertama kali datang 2.350 tahun yang lalu, kura-kura radiata juga menderita karena aktivitas manusia. Kura-kura ini sangat terancam punah karena hilangnya habitat, perburuan, dan eksploitasi oleh perdagangan hewan peliharaan.

Menariknya, kura-kura radiata dianggap sebagai salah satu kura-kura tercantik di dunia; pola radiated dan kubah berbentuk piramida di karapasnya benar-benar menarik perhatian. Juga, seperti banyak kura-kura lainnya, kura-kura ini memiliki umur panjang; satu kura-kura radiata bisa hidup sampai 188 tahun. Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, penyelundup telah menangkap ratusan dan bahkan ribuan kura-kura ini untuk dikirim ke negara-negara lain. Jumlah kura-kura radiata yang masih hidup tidak diketahui sampai saat ini.

19. Kondor California (Gymnogyps californianus)

California Condor

Sebagai burung nasar dan burung darat terbesar di Amerika Utara, burung kondor California punah pada tahun 1987! Sebenarnya burung yang masih hidup, sekitar 27 ekor di antaranya, ditangkap dan ditempatkan dalam program penangkaran. Kemudian pada tahun 1991 beberapa kondor yang tersisa diperkenalkan kembali ke alam liar, khususnya ke daerah terpencil di California, Utah, Arizona, dan Meksiko utara.

Hingga tahun 2017, 463 ekor condor tetap hidup di penangkaran atau di alam liar. Jadi burung condor California menjadi salah satu burung paling langka di dunia. Alasan utama kematiannya adalah perburuan, hilangnya habitat, dan keracunan timbal. Menariknya, burung kondor California adalah burung suci suku Indian Chumash di California Selatan.

20. Paus Sikat Atlantik Utara (Eubalaena glacialis)

North Atlantic Right Whale

Memiliki nama lain North Atlantic right whale, spesies paus balin ini mendapatkan namanya karena mereka tampaknya paus yang “benar” untuk dibunuh oleh pemburu paus. Karena sifatnya yang santai, kecenderungannya mendekati daratan, kandungan lemak tinggi dalam dagingnya yang membuatnya mengapung lama setelah mati, binatang setinggi 50 kaki ini mungkin tidak pernah pulih dari masa perburuan paus yang brutal.

Hanya ada sekitar 400 ekor paus di Samudra Atlantik Utara, habitat utamanya. Sekarang dilindungi, paus tersebut sering terbunuh oleh laju kapal laut atau terjerat dalam alat tangkap. Pada tahun 2008, National Marine Fisheries Service AS memberlakukan pembatasan kecepatan kapal dalam rute migrasi paus untuk mengurangi tabrakan paus dengan kapal.

21. Pangolin (Manis javanica)

Pangolin

Delapan spesies pangolin yang dikenal ada di Asia Tenggara dan di Afrika tengah dan selatan, tetapi spesies yang disebutkan di atas, yang ditemukan di pulau Jawa, dianggap sangat terancam punah. Sebagai trenggiling berlapis baja, pangolin adalah satu-satunya mamalia bersisik yang ditemukan di dunia. Mereka memakan semut dan rayap, bergerak lambat, dan karena itu mudah ditangkap atau dibunuh -tetapi mereka bisa meringkuk menjadi bola ketika terancam.

Pangolin banyak diperdagangkan di seluruh wilayahnya; orang ingin memakan daging mereka dan/atau mengumpulkan sisik mereka yang konon memiliki khasiat obat. Dua spesies trenggiling telah punah di zaman modern dan spesies lain telah punah di masa lalu. Entah berapa banyak yang akan bertahan hidup di masa depan.

22. Penyu sisik (Eretmochelys imbricata)

Hawksbill Sea Turtle

Ditemukan di dekat terumbu karang tropis di seluruh dunia, hawksbill sea turtle alias penyu sisik telah dicap sebagai hewan terancam punah sejak tahun 1996. Populasi mereka di seluruh dunia menurun 80 persen dalam 100-150 tahun terakhir. Diburu karena daging dan cangkangnya yang indah, penyu besar ini dapat mencapai berat 136 kg. Mereka menderita akibat kehilangan habitat, perburuan, penangkapan ikan skala besar, dan polusi.

Sejak tahun 1970, Fish and Wildlife Service dan National Marine Fisheries Service AS telah mengembangkan rencana untuk melindungi penyu sisik. Konvensi Perdagangan Internasional untuk Spesies Langka melarang pembunuhan atau penangkapan penyu sisik serta ekspor impor produk-produk penyu ini.

23. Tooth-billed pigeon (Didunculus strigirostris)

Tooth-Billed Pigeon

Tooth-billed pigeon alias Little Dodo Bird adalah kerabat dekat burung dodo yang terkenal, burung besar yang tidak bisa terbang yang punah pada tahun 1662 (hidup di sebuah pulau ketika manusia muncul adalah malapetaka bagi burung yang tidak bisa terbang). Merpati tooth-billed ini juga dapat menyusul dodo lebih cepat karena jumlahnya terus berkurang dengan cepat.

Mereka hanya ditemukan di pulau Samoa di Samudra Pasifik, hanya 70 hingga 380 ekor masih ada di alam liar dan tidak ada populasi tangkaran. Ancaman terhadap merpati ini meliputi hilangnya habitat, perburuan, topan, hilangnya pohon tua, dan predasi dari spesies invasif seperti kucing, babi, anjing, dan tikus.

24. Pelatuk paruh gading (Campephilus principalis)

Ivory-Billed Woodpecker

Salah satu burung pelatuk terbesar di dunia, pelatuk paruh gading (ivory-billed woodpecker) mungkin sebenarnya sudah punah. Penampakan terakhir burung itu terjadi di tahun 2004, tetapi hanya satu burung jantan yang direkam. Alasan kematian spesies ini adalah hilangnya habitat, terutama rawa-rawa kayu keras dan hutan pinus, yang sebagian besar telah ditebang sejak akhir Perang Saudara.

Hanya sedikit bukti yang menunjukkan burung itu hidup sejak awal 1940-an, meskipun orang-orang telah mencari burung pelatuk yang cantik ini di seluruh Tenggara Amerika Serikat (mereka mirip pileated woodpecker, yang tampak hampir identik). Jadi, jika orang Amerika dapat menemukan spesimen hidup dari burung ini dan menginformasikannya pada ahli biologi, dia akan mendapatkan mendapat hadiah 50.000 USD.

25. Harimau Tasmania / Thylacine (Thylacinus cynocephalus)

Thylacine

Juga dikenal sebagai harimau Tasmania, thylacine mungkin adalah spesies yang paling terancam punah dalam daftar ini; pada kenyataannya, mereka mungkin sudah tidak lagi ada di mana pun di muka bumi! Dikenal sebagai marsupial karnivora terbesar di zaman modern, harimau Tasmania adalah satwa asli Australia, Nugini, dan khususnya Tasmania, cakupan wilayah terakhir yang diketahui.

Harimau Tasmania terakhir ditemukan mati di kebun binatang pada tahun 1936, dan sebuah videonya dapat dilihat di YouTube serta video-video lain yang menunjukkan eksistensi kontemporernya. Namun, penampakan harimau Tasmania telah dilaporkan hingga tahun 2000-an, dan hadiah sebesar 1,75 juta USD telah ditawarkan kepada siapa saja yang dapat membuktikan keberadaan hewan tersebut.

Pada tahun 2017, para ilmuwan mulai menggunakan perangkap kamera untuk mencari makhluk ini, yang mungkin lebih sulit dicari (cryptid) daripada spesies yang terancam punah di masa kini.

Komentar